1.1
Definisi
Skabies
atau penyakit kudis adalah penyakit kulit yang disebabkan oleh infestasi dan
sensitisasi terhadap Sarcoptes scabiei
var hominis, dan produknya ke dalam epidermis yang ditandai dengan gatal pada
malam hari dan mengenai sekelompok orang. 1-5
1.2
Sinonim
The
itch, sky-bees, gudik, budukan, gatal agogo, kudis.1,2
1.3
Epidemiologi
Banyak
faktor yang menunjang perkembangan penyakit ini, antara lain higiene yang
buruk, hubungan seksual bersifat promiskuitas, kesalahan diagnosis,
perkembangan dermografik serta ekologik, hidup dalam lingkungan yang padat dan
kumuh, sosial ekonomi yang rendah dengan wanita dan anak-anak menjadi
terinfeksi. Ini cenderung lebih umum di daerah perkotaan, terutama di daerah
yang padat.1-3
Cara
penularan atau transmisi penyakit ini yaitu dengan kontak langsung (kontak
kulit dengan kulit), misalnya berjabat tangan, tidur bersama, berhubungan
seksual dan kontak tak langsung (melalui badan), misalnya pakaian, handuk,
sprei, bantal dan lain-lain.1,2
Penularannya
biasanya oleh Sarcoptes scabiei betina
yang sudah dibuahi atau kadang-kadang oleh bentuk larva.1 Dikenal
juga Sarcoptes scabiei var. animalis yang kadang-kadang dapat menulari manusia,
terutama pada mereka yang banyak memelihara atau kontak erat dengan binatang
peliharaan.1,4
1.4
Etiologi
Sarcoptes scabiei termasuk
filum Arthropoda kelas Arachnida, ordo Ackarima, super famili Sarcoptes,
penemunya adalah seorang ahli biologi Diacinto Cestoni (1637-1718).1,2,3
Pada manusia disebut Sarcoptes scabiei
var. hominis.1-3,5-6
Secara
morfologik merupakan tungau kecil, berbentuk oval, punggung cembung, bagian
perut rata, translusen, berwarna putih kotor, tidak bermata, mempunyai 8 kaki
(2 pasang merupakan pasangan kaki depan dan 2 pasang lainnya kaki belakang) dan
berdiameter 0,3 mm karena itu tidak mudah dilihat dengan mata telanjang.1-3
Ukuran yang betina berkisar antara 330-450 mikron x 250-350 mikron,
sedangkan yang jantan lebih kecil, yakni 200-240 mikron x 150-200 mikron.1-3
Bentuk dewasa mempunyai 4 pasang kaki (8 kaki), 2 pasang kaki di depan sebagai
alat untuk melekat dan 2 pasang kaki kedua pada betina berakhir dengan rambut,
sedangkan pada yang jantan pasangan kaki ketiga berakhir dengan rambut dan ke 4
berakhir dengan alat perekat.1,2
1.5
Patogenesis
Siklus
hidup tungau Sarcoptes scabiei ini
dimulai setelah kopulasi (perkawinan yang terjadi di atas kulit), tungau jantan
akan mati, kadang-kadang masih dapat hidup beberapa hari dalam terowongan yang
digali oleh tungau betina.1-3 Tungau betina yang telah dibuahi
menggali terowongan dalam stratum korneum dengan kecepatan 2-3 mm sehari sambil
meletakkan telurnya 2 hingga 50, selain itu saat menggali terowongan tungau
betina mengeluarkan sekret yang dapat melisiskan stratum korneum dan dapat
menyebabkan sensitisasi sehingga menimbulkan pruritus dan lesi sekunder (papul
dan nodul berwarna merah, vesikel, pustul, dan kadang bula).1-3,6
pada bayi dapat menyerang telapak tangan dan telapak kaki.3 Gatal-gatalnya
parah dan biasanya parah di malam hari, sedangkan pada siang hari pruritus
dapat ditoleransi tetapi persisten.2,3 Tungau hanya terdapat pada
lesi primer, lesi tersebut dapat berupa terowongan yang berisi tungau,
telur,dan hasil metabolisme.3 Bentuk betina yang dibuahi ini dapat
hidup sebulan lamanya pada epidermis.1,2 Telur akan menetas biasanya
dalam waktu 3-10 hari dan menjadi larva yang mempunyai 3 pasang kaki.1-3
Larva ini dapat tinggal dalam terowongan (struktur tipis, berwarna putih
abu-abu dengan panjang yang bervariasi, rata-rata 1-10 mm, seperti benang berbentuk
lurus atau berkelok-kelok) yang disebabkan oleh gerakan tungau di stratum
korneum pada tempat predileksi yaitu jari tangan, pergelangan tangan, siku
bagian luar, lipatan ketiak, umbilikus, gluteus, ekstremitas, genitalia
eksterna pada laki-laki dan aerola mammae pada perempuan, tetapi larva dapat
juga keluar.1-3,5 Di ujung terowongan dapat ditemukan vesikel atau
papul kecil dan terowongan umumnya ditemukan pada penderita kulit putih dan
sangat jarang ditemukan pada penderita di Indonesia karena umumnya penderita
datang pada stadium lanjut sehingga sudah terjadi infeksi sekunder.2,3
Setelah 2-3 hari larva akan menjadi nimfa yang mempunyai 2 bentuk, jantan dan
betina, dengan 4 pasang kaki, kemudian nimfa berubah menjadi dewasa dalam waktu
3-5 hari, sehingga Seluruh siklus hidup mulai dari telur sampai bentuk dewasa
memerlukan waktu antara 8-12 hari.1,3
Aktifitas Sarcoptes
scabiei di dalam kulit menyebabkan rasa gatal dan menimbulkan respon
imunitas seluler dan humoral serta mampu meningkatkan IgE baik di serum maupun
di kulit.1 Masa inkubasi berlangsung lama 4-6 minggu, dapat terjadi
reaksi hipersensitivitas lambat tipe IV sekitar 1 bulan pada pasien yang tidak
tersensitisasi atau dalam beberapa jam pada pasien yang tersensitisasi dan hal
ini menyebabkan pruritus berat yang khas untuk infeksi skabies.1,6 Scabies
sangat menular, transmisi melalui kontak langsung dari kulit ke kulit dan tidak
langsung melalui berbagai benda yang terkontaminasi (sprei, sarung bantal,
handuk dan lain-lain).1,2 Tungau scabies dapat hidup di luar tubuh
manusia selama 24-36 jam bahkan hingga 3 hari, tungau dapat di transmisi
melalui kontak seksual, walaupun menggunakan kondom karena kontak melalui kulit
di luar kondom.1,2
1.6
Manifestasi
Klinis
Manifestasi klinis pada scabies yaitu
sebagai berikut:
a. Pruritus
nokturna, artinya gatal pada malam hari yang disebabkan oleh aktifitas tungau
lebih tinggi pada suhu yang lebih lembab dan panas.1,2
b. Penyakit
ini menyerang sekelompok manusia, misalnya dalam sebuah keluarga, sehingga
seluruh keluarga terkena infeksi, di asrama, atau pondokan. Begitu pula dalam
sebuah perkampungan yang padat penduduknya, sebagian besar tetangga yang
berdekatan akan diserang oleh tungau tersebut. Walaupun seluruh anggota
keluarga mengalami investasi tungau, namun tidak memberikan gejala. Hal ini
dikenal sebagai hiposensitisasi. Penderita bersifat sebagai pembawa (carrier).1
c. Adanya
terowongan (kunikulus) pada tempat-tempat predileksi yang berwarna putih atau
keabu-abuan, berbentuk garis lurus atau berkelok, rata-rata panjang 1 cm, pada
ujung terowongan ditemukan papul atau vesikel.1,2,3 Jika timbul
infeksi sekunder ruam kulit menjadi polimorf (pustul, ekskoriasi, dan
lain-lain).1,,3 Namun, kunikulus biasanya sukar terlihat, karena
sangat gatal pasien menggaruk, kunikulus dapat rusak karenanya dan juga karena
umumnya penderita datang pada stadium lanjut sehingga sudah terjadi infeksi
sekunder.1,3 Tempat predileksinya biasanya merupakan tempat dengan
stratum korneum yang tipis, yaitu sela-sela jari tangan, pergelangan tangan,
siku bagian luar, lipat ketiak bagian depan, aerola mame (perempuan),
umbilikus, bokong, genitalia eksterna (laki-laki).1-4 Pada bayi,
dapat menyerang telapak tangan, telapak kaki, wajah dan kepala.1,3
Gambar
1.2 Scabies. Beberapa terowongan mirip
benang pada sela-sela jari dan buku-buku jari, lokasi umum pada scabies.
Pengikisan burro longitudinal akan sering ditemukan tungau di bawah pemeriksaan
mikroskopis.2
d. Menemukan
tungau adalah hal yang paling menunjang diagnosis dengan cara
mencongkel/mengeluarkan tungau dari kulit, kerokan kulit atau biopsi.1-3 Dapat ditemukan satu atau lebih stadium
hidup tungau.1 Selain tungau dapat ditemukan telur dan kotoran
(skibala).1-2,4 tungau sulit ditemukan pada pemeriksaan laboratorium
karena tungau yang menginfeksi penderita sedikit sebab jumlah telur yang
menetas hanya 10%, selain itu garukan dapat mengeluarkan tungau secara mekanik
dan jika terjadi infeksi sekunder maka pus yang terbentuk dapat membunuh tungau
karena pus bersifat akarisida.3

Komentar
Posting Komentar